Semangat pagi. Kamu sekarang jadi apa nih? Penulis buku fiksi atau non-fiksi? Emang fiksi itu apaan sih? Jika berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) tahun 2008, fiksi adalah cerita rekaan (roman, novel, dsb); tidak berdasarkan kenyataan; rekaan; khayalan. Dan kategori diluar itu maka disebut non-fiksi.

Pada intinya, fiksi adalah karangan, rekaan, khayalan, "kebohongan", "hoax", yang gunanya untuk menghibur orang lain dengan cerpen, novel, bahkan termasuk telenovela, sinetron, drama, film komedi, horor, laga, dan masih banyak lagi. Nah, kalo mengacu pada hal diatasnya, mungkin novel yang kamu buat sudah merupakan bentuk fiksi. Tapi benarkah hanya itu?

Bahasa
Entah temen-temen baru tahu atau tidak, jika mengacu pada ciri-ciri buku fiksi, pasti menggunakan bahasa non-formal, atau bahasa sehari-sehari. Bisa menggunakan bahasa daerah, atau percakapan bahasa indonesia yang diucapkan pada umumnya di masyarakat.

Kira-kira, apakah novelmu termasuk buku fiksi? Atau non-fiksi? Sebab, penggunaan bahasa non-formal tak begitu memperhatikan standart EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Karena memang bahasanya adalah yang sehari-sehari diucapkan oleh kita. Misal kamu nulis "temen-temen", atau "nggak banget dech", atau "sante aja kale", dsb. Kata-kata itu jika menggunakan standart bahasa baku sesuai KBBI tentu salah, dan akan memiliki tanda merah jika menggunakan plugin microsoft word proofing tools bahasa indonesia.

Jika kamu masih kekeh ingin novelmu sesuai bahasa formal, maka bisa dikatakan tak lagi masuk kategori fiksi. Sebab untuk novel sudah menjadi keharusan menggunakan bahasa santai, bahasa yang pas, dan sedikit alai.


Ada istilah copywriting dalam dunia kepenulisan saat ini. Copywriting bertujuan agar pembaca lebih manyun alias tertarik membacanya. Misalnya, ada beberapa kata yang kamu cetak miring, pakai huruf kapital semua, bahkan kamu beri tanda baca yang tak wajar sebagai daya tarik. Nah, ini tak masalah, dan bukan menjadi problem pada novelmu. Karena memang seharusnya novel memang demikian.

Denotative
Denotatif? Apa itu? Temen-temen mungkin agak asing dengan istilah ini. Denotatif adalah penggunaan bahasa yang menunjukkan arti sebenarnya. Pada intinya yaitu menyampaikan apa yang ingin disampaikan alias to the point.

Nggak heran jika pada saat kamu membaca novel dengan label Best Seller akan dibikin bingung, berbelit-belit, hingga berpikir berulang kali untuk paham mengenai maksud dan isi dari cerita tersebut.

Pernah baca buku The Da Vinci Code? Pada intinya penulis mengisahkan kejadian yang dialami selama 24 jam atau sehari semalam. Tapi ia ceritakan sampai detail sekali hingga menciptakan buku hampir setebal 1000 halaman. Nah, kalo novelmu nggak membuat pembaca bingung, atau setidaknya mikir dulu untuk memahami ceritamu, sepertinya novelmu bukan kategori fiksi deh.

Jadi, segera kroscek novelmu ya sebelum bener-bener launching. Apakah novelmu bisa dikategorikan fiksi atau justru non-fiksi. Semoga bermanfaat.